Di satu ufuk yang berwajah seri, ada satu garis yang memisahkan lautan dan daratan, dikala ombak bersiul santai, bermain bersama angin meniup damai
Di masa garis itu mula menghilang, bayu laut membawa pergi embun, lalu berganti dengan keringat yang memecah penat, sambil tersenyum kau berdiri tegak
Lalu masa tetap berjalan, sinar terang tetap juga memenuhi setiap dimensi hidup, sesekali pelangi mewarnai hari, sambil berbisik pada hujan, agar mentari jadi kedinginan
Lalu dalam kecantikan pelangi, singgah sebentar gerhana yang terluka, pacarnya dikata curang, ditengah langit terbentang luas, maka gerhana disuruh pulang
Terus saja senja bertandang, walau tidak langsung ia diundang, gerhana hitam telahpun hilang, lalu bersua juga malam dan siang, di kaki ufuk ia tenggelam
Pena: Kupu-kupu Kelabu
Tiada ulasan:
Catat Ulasan